Tiga Sifat Bocah yang Tak Boleh Hilang, Meski Usia Mulai Menua - Rumahkabar.com

Breaking

Post Top Ad

Post Top Ad

Jumat, 04 Maret 2022

Tiga Sifat Bocah yang Tak Boleh Hilang, Meski Usia Mulai Menua

Guru BTQ di KB-TK HJ. ISRIATI BAITURRAHMAN 2
Guru BTQ di KB-TK HJ. ISRIATI BAITURRAHMAN 2


Menjadi tua itu pasti, tapi menjadi dewasa harus lebih dulu mosak-masik, benjut, ketatap ini itu yang sering kita sebut sebagai keadaan. Dalam menghadapi masalah berupa gesekan-gesekan sosial, sambat tak punya uang, ngga nemu loker alias lowongan kerja, punya pasangan kang selingkuh, jomblo kelamaan, punya uang mikir utang, mau modis dompet mringis, punya temen tukang tipu atau segala hal yang miris jika terus kutulis, menjadi sosok dewasa memang berat, sulit, rumit. 


Saat dihadapkan dengan hal demikian, biasanya kita hanya stuck di situ-situ aja, paling mentok bikin story atau nulis caption sok bijak. Demi menyelamatkan hati yang resah kita memang harusnya  healing, menengok ke dalam diri, barangkali ada yang salah dengan dewasa. Menjadi dewasa dan menua membuat kita lupa bahwa ada sifat anak-anak yang harusnya tetap melekat, tak boleh hilang. Apa saja sifat tersebut?


Simak Tiga Sifat Bocah yang Tak Boleh Hilang, Meski Usia Mulai Menua berikut.


Pertama, sifat anak yang tak boleh hilang adalah pemaaf. Seorang bocah, jika hatinya sakit karena amarah orang tuanya atau keinginannya tak terpenuhi, ia pasti menangis, tapi tak ada dendam. Sebab sambil menangis, hatinya turut memaafkan. Bedanya dengan bocah, mereka memaafkan sebab lebih dulu diberi pemahaman atau penjelasan yang masuk akal, sedang masalah dewasa, harus dihadapi dulu baru memperoleh hikmah atau pelajaran.  


Hal seperti ini harusnya masih bisa kita terapkan dalam menghadapi masalah hidup yang semakin hari semakin tak ada empati. Misalnya saat kita dipertemukan dengan tukang tipu, penjual olshop dengan akun bodong. Yah wajar kalo pertama harus emosi karena kehilangan uang sekaligus membutuhkan barang, tapi kalo dipikir lagi, barangkali memang kita yang salah, kurang hati-hati, gampang tergiur oleh urusan duniawi atau si tukang tipu justru lebih membutuhkan. Sebab kalo ngga butuh-butuh amat, mungkin dia ngga bakal nipu.


Emosi dan sedih yang bercampur emang bikin kacau tapi setelah ikhlas dan memaafkan, rasanya ada kelegaan tersendiri. Untuk menenangkan diri dan lebih ikhlas dalam memaafkan, kita bisa menyebut kehilangan tersebut dengan kata lain, yaitu yowislah, eh bukan, sedekah. Bayangkan, betapa damai dan tenangnya jika kita tidak menghilangkan sifat pemaaf pada anak kecil yang ada dalam diri kita. 


Tak mudah curiga menjadi sifat kedua dalam diri bocah. Coba tengok ke belakang, ketika ada teman orang tua kita yang bahkan tidak kita kenal memberi permen, yang terucap saat itu hanyalah terima kasih. Kita tak perlu lelah memikirkan apakah itu permen atau racun.


Tips mempercayai seseorang paling aman adalah tidak menaruh curiga apapun.  Memang waspada itu perlu, tapi curiga baiknya dihindari. Menaruh curiga yang mendalam, akan membuat kita menjadi pribadi yang overthinking dan suudzon(berprasangka buruk).


Padahal, overthinking dan suudzon merupakan dua hal yang kurang terpuji atau kurang baik, juga hal yang mampu melelahkan pikiran. Akibatnya, hidup terasa lebih berat. Jika kita sumeleh, yakin dengan adanya Tuhan yang maha tau segalanya, maka tak perlu ada curiga di antara kamu dan mereka. Karep-karepmu.


Kemudian, sifat bocah yang ketiga yaitu bahagianya sederhana. Anak-anak seringkali lebih realistis, sebab mereka membutuhkan apa yang ada di depan matanya dan kebahagiannya ada pada terpenuhinya kebutuhan. Jika mereka melihat balon, ya bahagianya kalo main balon. 


Dewasa ini, kita harus paham dengan apa yang sebenarnya dibutuhkan. Jika kebutuhanmu adalah hidup tentram, jauh dari rasan-rasan liyan, ya ciptakan komunikasi, sikap, laku, dan citra yang baik tanpa harus menjadi orang lain di dalamnya. Jika kebutuhanmu bisa makan enak, holiday, memberangkatkan haji orang tua, jalan-jalan keliling dunia, ya realistis aja, hasil kerjamu ditabung dulu.


Jangan terlalu mengeja ketiadaan, jika yang nyata selalu gagal kau pahami. Jangan terlalu berat mengharap kehidupan, jika yang sederhana selalu lupa kau syukuri. Sebab, sesederhana apapun pencapaianmu, bila kau syukuri semua berujung bahagia.


Afifatun Ni'mah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Post Top Ad