-->

Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita

Iklan

Label

Iklan

Indeks Berita

Flexing Pencapaian dan Degradasi Pembangunan

Senin, 06 Juni 2022 | Juni 06, 2022 WIB Last Updated 2022-06-06T09:09:04Z

Oleh: Amrizarois Ismail, S. Pd., M. Ling

Dosen Prodi Rekayasa Infrastruktur dan Lingkungan UNIKA Soegijapranata Semarang, Pegiat Griya Riset Indonesia.

 

Terhitung telah lebih dari dua tahun Pandemi Covid 19 mewabah di seluruh penjuru Dunia. Bukan hanya Indonesia, bahkan hampir seluruh negara-negara di seluruh dunia menerima dampak yang ditimbulkan Pandemi Covid-19, mulai dari dampak kesehatan, sosial budaya, pendidikan, dan tentunya dampak ekonomi dan berbagai sektor turunanya. Kini, setelah pada akhir 2021  vaksinasi dari tahap pertama hingga booster atau tahap ke tiga diberikan, Indonesia beserta banyak Negara lainya telah bersiap mengumumkan masa transisi pandemi ke endemi. Hal tersebut dapat diartikan bahwa era Pandemi Covid-19 akan segera berakhir.

 

Berakhirnya Pandemi juga ditandai dengan maraknya event-event besar yang kembali dihelat oleh Indonesia maupun Publik Internasional. Sebut saja contohnya adalah ajang multi event Sea Gamse yang diadakan di Vietnam, Moto GP yang juga dihelat di sirkuit internasional Mandalika dan yang terakhir juga ajang Formula E yang diadakan di Jakarta Indonesia. Sejatinya event ini menjadi hal yang penting, jika dimaksudkan menjadi booster pemicu semangat bagi atlet-atlet Indonesia untuk dapat berlari mengejar ketertinggalan prestasi dengan Bangsa lain, selain itu pembangunan sirkuit dan stadion oleh raga untuk mendukung terselenggaranya event tersebut sejatinya juga dapat menjadi sarana penunjang prestasi para atlet Nasional. Meskipun faktanya, event akbar tersebut juga kental dengan ajang pamer pencapaian pembangunan yang justru berbau kampanye politik sebelum musimnya.

 

Parahnya lagi, aksi pamer pembangunan tersebut ternyata juga mendorong netizen pendukung dan simpatisan tokoh politik tertentu untuk meramaikan ranah sosial media dengan kampanye membanding-bandingkan prestasi tokoh pujaan baik pada keberhasilan event maupun pembangunan infrastruktur pendukungnya, seperti Jakarta Internasional Stadion (JIS) vs Stadion Jatidiri, dan yang terakhir ajang Moto GP dengan Mandalika sirkuitnya Vs Formula E dengan International E-Prix Circuit Ancol yang nyatanya menjadi ajang pamer pencapaian politik yang sringkali menimbulkan rasa ketidaknyamanan baik pada kubu yang berseberangan, maupun pada masyarakat yang hanya menjadi audien. Hal tesebut memantik pertanyaan yang patut muncul yaitu  apa untung ruginya aksi pamer pencapaian dengan membandingkan pihak lain dan berpotensi memicu ketidak senangan pada pihak lain atau dengan istilah populernya dikenal dengan flexing (Darmalaksana, 2022)


Beberapa waktu lalu kita sering disuguhkan aksi flexing kekayaan oleh para crazy rich yang berujung bui bagi pelakunya karena belakakangan diketahui keterlibatannya dengan praktik investasi bodong, pencucian uang dan lain sebagainya, dan kini pemberitaan mengenai pembandingan pencapaian para penguasa seolah membuka mata kita bahwa flexing juga dapat berlaku dalam dunia pembangunan.

 

Flexing dan degradasi pemahaman masyarakat


Sejatinya flexing pembangunan muncul dengan tujuan menunjukan besarya pencapaian yang berhasil digapai oleh penguasa, namun seringkali tidak disadari hal itu berpotensi mempersempit cara pandang Masyarakat akan pembangunan. Dari kasus JIS vs jatidiri misalkan, aksi pamer yang hanya mengangkat satu indikator ketercapaian pembangunan berupa keberhasilan membangun infrastruktur stadion yang begitu megahnya yang seolah membuat publik pendukung lupa akan prestasi sepak bola yang tidak berbanding lurus dengan kemegahan stadion yang dibangun. 


Contoh lain yang baru saja terjadi adalah event Moto GP dengan Sirkuit Madalikanya Vs Formula E dengan International E-Prix Circuit Ancol yang sama sekali tidak mencerminkan prestasi para pembalap kita yang belum bisa berbicara banyak dalam cabang olah raga balap bergengsi tersebut. 


Hal itu menunjukan bahwa Flexing pencapaian pembangunan bisa saja mempersempit pemahaman Masyarakat akan indikator penting suatu pembangunan yang sejatinya perlu dipahami masyarakat sebagai pemegang kekuasaan tertinggi agar dapat turut serta menjadi kontrol dan pendorong maksimalnya manfaat pembangunan, padahal untuk mengukur satu pencapaian pembangunan haruslah disandarkan pada indikator pembangunan yang tidak hanya dilihat dari segi monumental infastrutur sebagai pembangunan fisik saja, namun juga perlu mencapai nilai manfaat yang dapat mendorong peningkatan kualitas masyarakat sebagai bentuk pembangunan sumber daya manusia (SDM). 


Secara menyeluruh, sebagai mana disampaikan oleh Iwan Nugroho dan Rochmin Dahuri dalam bukunya yang berjudul Pembangunan wilayah : perspektif ekonomi, sosial, dan lingkungan (2004), bahwa sejatinya subtansi ketercapaian pembangunan itu dapat ditinjau dari beberapa aspek, diantaranya adalah (1) aspek sosial (Sosial Capital) yang melingkupi kemanfaatan sosial dan ekonomi bagi masyarakat, (2) aspek lingkungan (Natural) yang menyangkut kemanfaatan pelestarian lingkungan, (3) aspek moral dan elektabilitas juga menjadi hal yang terpenting, yang mana pengambilan keputusan pembangunan perlu dipastikan bersih dari dari beragam upayan kotor demi suatu kepentingan yang menyekesampingkan perihal norma dan moralitas (moral hazard). Lebih lanjut Nugroho dan Rochmin juga menyampaikan bahwa hasil-­hasil pembangunan haruslah dapat dinikmati oleh seluruh masyarakat secara adil melintasi (menembus) batas ruang (inter-region) dan waktu (inter-generation). Implikasinya kajian aspek spasial dan fisik saja menjadi kurang relevan tanpa terpenuhinya unsur-unsur penting di atas.

 

Dengan maraknya aksi flexing, salah satu sisi buruknya dapat mendegradasi pemahaman masyarakat akan aspek-aspek penting yang menjadi indikator keberhasilan pembangunan. Lebih sebagaimana potensi media masa, aksi flexing yang kemudian diviralkan oleh media tentu akan berpotensi menggiring opini masyarakat yang dapat beranggapan bahwa keberhasilan pembangunan hanyalah menyoal hal yang dibanding-bandingkan dan dipamerkan saja, misalnya hanya kemegahan infrastuktur dan gegap gempitanya event, padahal belum tentu indikator penting yang menjadi inti dari keberhasilan pembangunan dapat dicapai oleh pemangku kekuasaan.

 

Bagitulah jika kita selalu disuguhkan dengan praktik flexing pembangunan dengan maraknya aksi pembandingan model Vis a Vis yang kian marak belakangan ini. Lalu, harusnya kita perlu mempertanyakan, apakah pamer dan saling senggol pencapaian yang begitu monumental juga diiringi dengan pembangunan sumber daya manusianya dan unsur penting lainya sebagaimana disebut di atas, bagaimana dengan target pertumbuhan prestasi dari atlet-atlet kita?, atau justru aksi pamer pencapaian pembangunan hanya diperuntukan adu gengsi para politikus untuk merebut decak kagum dari masyarakat akar rumput. Sampailah kita pada satu kesimpulan, bahwa aksi flexing pencapaian dapat mendegradasi subtansi pembangunan itu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silahkan tulis komentar Anda

×
Berita Terbaru Update